KLINIK TUMBUH KEMBANG ONLINE

Gangguan Konsentrasi Anak, Belajar Daring Orangtua Tidak Sabar dan Emosi

Pandemi Covid19 berdampak sangat luas bagi masyarakat. Bukan hanya dampak kesehatan dan ekonomi, tetapi bidang pendidikanpun terdampak tidak ringan karena anak sekolah harus belajar di rumah. Problema belajar di rumah bukan hanya sekedar masalah sinyal internet atau biaya pulsa. Masalah besar lainnya karena ketidak mampuan orangtua membimbing anak terutama karena banyak anak mengalami masalah gangguan konsentrasi. Hal ini inilah menjadi salah satu alasan sebagian orangtua menuntut untuk segera sekolah tatap muka langsung meski wabah semakin mengkawatirkan. Bahkan hal ini menjadi penyebab orangtua tidak sabar dan emosi dan melakukan kekerasan pada anaknya. Tragisnya, seorangtua di Gunung Kendeng, Kecamatan Cijaku, Lebak sampai tega menganiaya anaknya yang masih duduk di bangku kelas 1 SD hingga meninggal dunia hanya karena kesal lantaran korban susah diajari saat belajar online.

Gangguan konsentrasi pada anak terjadi dengan tingkat yang ringan hingga berat membuat anak tidak mampu mengikuti pejaran atau anak tidak bisa mengkikuti keinginan orangtua atau mendengarkan dengan baik arahan orangtua saat belajar di rumah atau daring. Hal ini yang membuat sebagian orangtua kewalahan, tidak sabar, emosi hingga melakukan kekerasan verbal atau fisik pada anaknya.

Sebenarnya masalah tersebut sudah muncul sebelum masa pandemi, hanya saja orangtua tidak mengalami secara langsung. Maka, keinginan orangtua untuk segera sekolah tatap muka langsung karena alasan sulit mengajari anak di rumah tidak menyelesaikan masalah atau hanya memindahkan masalah. Karena, anak juga mengalami problema yang sama saat di sekolah hanya saja orantua tidak ikut merasakannya.

Pada anak usia sekolah gangguan konsentrasi tampak pada gejala cepat bosan terhadap pelajaran atau sulit mendengarkan pelajaran yang diberikan guru atau orangtua sehingga saat belajar di rumah sering bengong (melamun), tidak peduli, tidak mau mendengarkan sangat cuek dan bila dipanggil beberapa kali baru menoleh. Tidak bisa membaca lama buku pelajaran, sering mencari alasan dengan mengatakan “capek”, “nanti saja” atau “sudah bisa” saat disuruh membaca buku pelajaran. Saat remaja atau dewasa biasanya bila belajar harus dalam keadaan tenang atau biasanya saat tengah malam. Karena , saat siang hari tidak bisa belajar mudah teralih banyak aktifitas di sekitarnya. Tetapi uniknya pada beberapa kasus baru bisa belajar dengan baik saat mendengarkan musik

Uniknya  biasanya bisa bertahan lama  pada hal yang disukai seperti menonton televisi, baca komik, novel atau bermain gadget atau game.  Karena anak dengan gangguan konsentrasi  tertentu tidak terganggu bila menghadapi hal yang disukai tetapi akan sangat bosan terhadap hal yang tidak disukai. Akibatnya dalam pelajaran sekolah akan didapatkan mata pelajatran tertentu sangat tinggi tetapi pelajaran lainnya sangat buruk.

Anak juga sering mengalami kehilangan barang di sekolah , tidak teliti, lupa perintah guru di sekolah dan suka terburu-buru. Anak kelompok ini biasanya kurang cermat dan tidak teliti sehingga saat diminta tolong mencari atau mengambil barang di meja akan selalu mengatakan tidak ada, karena tidak mampu dengan teliti mencari barang di natara tumpukan banyak barang di meja. Padahal barang tersebut jelas terlihat jelas di atas meja. 

Anak tampak sering terburu-buru sehingga mengakibatkan perilaku tidak mau antri. Buru buru mengerjakan tugas atau soal ujian sekolah, tidak teliti sehingga dalam mengerjakan soal sering salah bukan karena tidak bisa tetapi karena ketidak telitiannya. Orangtua sering heran dalam ujian seolah soal yang salah biasanya soal yang tidak sukar dan biasanya mudah dijawab saat belajar di rumah.

Gangguan konsentrasi bukan merupakan penyakit tetapi merupakan gejala atau suatu manifestasi penyimpangan perkembangan anak. Gangguan konsentrasi atau inatensi atau pemusatan perhatian yang kurang, dapat dilihat dari kegagalan seorang anak dalam memberikan perhatian secara utuh terhadap sesuatu. mudah sekali beralih perhatian dari satu hal ke hal yang lain.

Gangguan Penyerta lainnya

Gangguan konsentrasi tersebut sering disertai gangguan lainnya seperti peningkatan gangguan emosi, gangguan kecemasan, agresif, gejala gerakan motorik berlebihan, gangguan sensoris dan motoris, gangguan impulsif, gangguan tidur, gangguan perilaku lainnya.

Biasanya anak mengalami emosi tinggi dan agresif. Emosi tinggi seperti mudah marah dan meledak emosinya. Bila marah sering membanting barang, melempar. Pada anak yang lebih kecil bila marah suka berguling-guling di lantai atau tantrum. Pada usia bayi atau di bawah 2 tahun tampak riwayat suka mencubit, mencakar, memukul orang lain, Bahkan beberapa anak disertai suka menyakiti diri sendiri  seperti menarik rambut, menyakiti kulit, membentur kepala dll.

BACA  Tanda dan Gejala Disleksia Anak Prasekolah dan Sekolah Dasar

Saat emosi meningkat, berbeda pendapat dan menentang orangtua seringkali “minggat” atau keluar rumah dalam beberapa saat.

Sering bersikap negatifisme yang tinggi sering berbeda pendapat, bila orangtua mengatakan “A” anak selalu mengatakan “B”, suka membantah, suka menentang, sulit bekerjasama,  keras kepala dan tidak menurut, sering curiga, sering berpikiran negatif, tidak percaya diri, sering pilih pilih teman, menyendiri dan sulit bergaul. Pilih pilih teman, hanya nyaman pada satu atau dua sosok teman.

Anak mengalami gangguan impulsif, bila sedih berlebihan mudah menangis. Bila senang tertawa dan berteriak berlebihan. Biasanya anak berbicara berlebihan, sering memotong pembicaraa, bicara sering berpindah pindah atrau berganti topik, sering memotong pembicraan orang lain, tidak bisa mendengarkan lama, mengaburkan jawaban atas pertanyaan sebelum pertanyaan diselesaikan

Pada beberapa kasus disertai kecemasan, anak sering takut, mudah panik, mudah kawatir sehingga membuat tidak percaya diri. Anak biasanya suka melucu, suka usil, suka  iseng dan usil mengganggu adik, kakak atau orangtua.

Pada umummya anak juga mengalami gangguan hiperkinetik atau gerakan motorik berlebihan, over aktif atau  hiperaktif dapat dilihat dari perilaku anak yang tidak bisa diam. Anak sering tidak bisa diam duduk lama, memanjat, melompat lompat, smack down, berlari atau memanjat berlebihan dalam situasi di mana perilaku ini tidak biasa dilakukan oleh saudara atau anak lainnya sebayanya. Pada anak peremuan tidak suka main boneka, masak masakan, tetapi sebaliknya anak suka main bola, main mobil mobilan dan lebih suka bermain dengan anak laki laki sehingga sering dilabeli “tomboy”. Bila duduk lama anak tampak sering merasa gelisah, menggerak gerakan kaki saat duduk, menggerak gerakkan atau memainkan pinsil, barang lain dalam pegangannya.. Meninggalkan kursi saat belajar dari online atau dalam situasi lain yang mengharuskan tetap duduk. 

Pada banyak kasus juga disertai gangguan motorik kasar, gangguan koordinasi dan keseimbangan riayat waktu kecil mengalami keterlambatan ringan duduk, merangkak, berjalan, melompat atau mengayuh sepeda. beberapa anak bahkan tidak melalui fase merangkak langsung berjalan. Gerakan anak tampak clumsy (canggung), jalan terburu buru, mudah jatuh, takut ketinggian, gerakan monoton, tidak mahir olah raga ketrampilan seperti sepak bola.

Beberapa kelompk anak mengalami gangguan sensoris seperti sensitif terhadap cahaya, suara atau raba. Saat tidur lebih suka gelap, gadget sering pencahyaannnya di setting yang tidak terang, cahaya terang atau matahari tidak nyaman. gangguan sensoris t=raba mudah geli, jijik, sering jinjit. Gangguan sensitif suara sehingga respon berlebihan atau tidak suka suara frekuensi tertentu seperti suara bayi menangis, suara blender, suara gergaji dan suara petir.

Pada usia di bawah 5 tahun sering menaglami gangguan tidur, bila tidur tengah malam, terbangun tengah malam duduk dan tidur lagi, mimpi buruk, tidur berjalan fdan gangguan tidur lainnya Gangguan tersebut membaik setelah usia 5 tahun meski sebagian kecil anak berlanjut higga dewasa.

Bervariasi dan Overdiagnosis

Kualitas penampilan gangguan konsentrasi bisa yang ringan hingga berat  Kualitas konsentrasi atau pola perhatian anak terhadap suatu hal terbagi menjadi beberapa klasifikasi. Kelompok yang paling berat adalah over exklusif dimana seorang anak hanya terfokus pada sesuatu yang menarik perhatiannya tanpa mempedulikan hal lain secara ekstrem. Misalnya pada bayi yang sedang memperhatikan kancing bajunya dan tidak mempedulikan rangsangan lain.

Rentang Atensi atau  lamanya waktu yang digunakan anak untuk menekuni suatu kegiatan dapat diamati sesuai usia. Rata-rata rentang atensi  pada usia 2 tahun selama 7 menit,  usia 3 tahun selama 9 menit, usia 4 tahun selama 12 menit, usia 5 tahun selama 14 menit. Kemampuan memusatkan perhatian berbeda-beda. Makin berkembang anak makin mampu menseleksi stimulus yang ada dan makin mampu memusatkan perhatian. Meskipun gangguan konsentrasi ini juga dapat terus terjadi sampai usia dewasa.

Gangguan tersebut terjadi sangat bervariasi mulai derajat yang ringan, sedang  hingga berat. Bila ringan atau sedang sering para klinisi arau dokter melabeli dengan diagnosis “normal”, anak dalam masa eksplorasi, kurang perhatian dan berbagai label lainnya.  

Gangguan konsentrasi yang tidak ringan bila disertai dengan gangguan perilaku lain seperti ADHD, Autis, gangguan bipolar, gangguan konduksi, depresi, gangguan disosiatif, gangguan kecemasan, gangguan belajar, gangguan mood, gangguan panic, obsesif-kompulsif, gangguan panik disertai goraphobia. Juga kelainan perilaku lainnnya seperti gangguan perkembangan perfasif  termasuk gangguan Asperger, Posttraumatic stress disorder (PTSD), psikotik, fobi sosial, keterlambatan bicara, ganggguan tidur, sindrom Tourette dan ticks.

BACA  Gejala dan Penanganan Disleksia

Saat kewalahan masalah anak dikonsultasikan oleh orangtua pada psikolog, dokter ahli tumbuh kembang anak, dokter saraf atau psikiater. Saat dievaluasi oleh klinis atau dokter disimpulkan banyak anak tidak mengidap ADHD atau ADD. Dikatakan klinisi tersebut  memang se usia anak tersebut sedang dalam periode melakukan ekplorasi, kurang perhatian, atau baik baik saja. Orang tua jadi bingung, mengapa dikatakan normal tetapi kakak atau adiknya saat seusia bisa belajar di rumah, bisa diam dan bisa mengerjakan pekerjaan dengan baik.

Sebaliknya banyak kasus gangguan ringan ke arah sedang sering mendapatkan pitfall atau overdiagnosis (kesalahan diagnosis/diagnosis berlebihan) sebagai ADHD atau Autisme padahal bukan. Hal ini yang menunjukkan bahwa data laporan di Amerika ADHD adalah wrong diagnosis (kesalahan diagnosis) terbesar  yang dilakukan dokter padahal anak tidak mengidap gangguan tersebut.

Pada kondisi tersebut membuat beberapa orangtua frustasi bukan hanya saat belajar di rumah tetapi prestasi sekolah tidak bagus dan sering ada masalah di sekolah, Sehingga beberapa orangtua memutuskan memilih “home schooling” untuk pendidikan formal di sekolah.

Kemampuan Positif

Pada dasarnya gangguan gangguan tersebut diatas ididasari otak yang sensitif dan terdapat rangsangan yang berlebihan. Sehingga saat rangsangan ke otak berlebih tersebut terjadi gangguan negatif tetapi juga terjadi hal rangsangan positif ke otak. Di antaranya anak sebenarnya cerdas, kreatifitas tinggi, jiwa seninya tinggi, kemampuan IT sangat bagus dan anak cepat mengambil keputusan dalam keadaan terdesak. Pada banyak kasus pengalaman otobiografi orang sukses, pada usia sekolah prestasi tidak bagus bahkan cenderung buruk hinggaterdapat pengalaman tidak naik kelas. Tetapi berpesatasi luar biasa dalam bidang seni, budaya, militer, politik, agama, dan sosial di saat dewasa.

Meskipun fokus tidak bagus, mudah lupa atau short memory loss tetapi biasanya anak golongan seperti ini ingatan memori lamanya sangat bagus dan tajam. Sehingga sebenarya anak terkesan cerdas. Anak pintar mdan cepat “ngeles” atau pintar mencari alasan, suka menyanyikan lagu dengan lirik sendiri. Kecerdasan yang cukup tinggi tersebut seringkali tampak anak tidak memperhatikan pelajaran tetapi bila ditanya bisa menjawab dengan benar. Hal tersebtjuga tampak dari nilai pelajaran sekolah yang kadang nilainya bagus dan tinggi tetapi mendadak nilainya berubah sangat jelek. Terdapat kisah ektrim seorang anak dengan gangguan konsentrasi yang cerdas, saat kelas VI SD nilai ujiannya tertinggi di kotanya, tetapi saat kelas 1 SMP tidak naik kelas.

Seringkali dalam penilaian tes IQ tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya. Bukan berarti anak tidak bisa menjawab atau menyelesaikan pertanyaan dalam test tersebut. Tetapi anak tidak bisa mendengarkan perintah atau menyimak pertanyaan dengan baik,

Kelompok anak yang mengalami keadaan seperti ini sering divonis sebagai anak malas, cuek, keras kepala, pemberontak, “Mister Alasan”, ceroboh, tidak teliti, suka membantah  dan tidak peduli, tidak patuh, anak nakal dan segudang julukan buruk lainnya.

Penderita Alergi

Gangguan konsentrasi juga sering terjadi pada penderita dengan riwayat prematur, riwayat alergi dan riwayat masalah jhipersenitifitas saluran cerna. Pada usia tertentu mengalami riwayati asma, dematitis atopik (gangguan kulit), rinitis atau gangguan saluran cerna. Gejala yang  menunjukkan adanya gangguan pencernaan adalah riwayat Kolik saat bayi atau GERD saat bayi. Gangguan berulang seperti perut, kembung, sering buang angin, mual, muntah, mulut berbau, nyeri perut bersifat  hilang timbul. Sulit buang air besar, kotoran tinja berbau, berwarna hitam, hijau, keras, bulat seperti kotoran kambing. Lidah tampak kotor, berwarna putih serta air liur bertambah banyak atau mulut berbau. Gangguan kulit berupa bintik-bintik kemerahan seperti digigit nyamuk atau serangga, biang keringat, kulit berwarna putih (seperti panu) di wajah atau di bagian badan lainnya dan sebagainya. Gangguan hipersensitifitas hidung anak mudah pilek, bersin, mulut terbuka, mengorok (snooring), hidung berdarah, adenoid, tonsilitis kronis (amandel) atau sinusitis.

Penyebab

Meskipun anak lain yang berperilaku seperti anaknya juga tidak sedikit. Tampaknya gangguan tersebut seperti fenomena gunung es. Gangguan yang berat seperti ADD, ADHD atau Autisme hanya tampak kasusnya sedikit dipermukaan. Tetapi gangguan yang ringan dianggap normal banyak dialami orangtua.

BACA  Gejala dan Penyebab Gangguan Belajar Pada Anak

Penyebab kesulitan konsentrasi masih belum terungkap secara jelas, karena banyak faktor yang mungkin dapat mempengaruhi. Di duga gangguan fungsional neurologi atau Malfungsi organik otak berperanan sebagai penyebab.

Beberapa peneliti mengungkapkan faktor genetik ikut berpengaruh. Penelitian terakhir banyak mengungkap gangguan ini banyak dialami saat dalam kehamilan ibu mengalami infeksi virus saluran napas batuk, pilek, badan meriang berulang dan berkepeanjngan.

Penanganan 

  • Melihat manifestasi gangguan konsentrasi yang sangat banyak dan bervariasi maka tentunya terdapat banyak terapi atau cara dalam penanganannya sesuai dengan penyebab dan gangguan lain yang menyertai. Terapi yang diterapkan terhadap penderita gangguan konsentrasi haruslah bersifat holistik dan menyeluruh bukan melihat kasus hanya dari sisi tertentu saja.
  • Penanganan ini hendaknya melibatkan multi disiplin ilmu yang dilakukan antara dokter, orangtua, guru dan lingkungan yang berpengaruh terhadap penderita secara bersama-sama.
  • Bila gangguan tersebut disertai gangguan alergi khususnya gangguan hipersensitiftas saluran cerna, penelitian menunjukkan penghindaran makanan penyebab alergi dapat memperbaiki gangguan alergi, gangguan pencernaan, gangguan konsentrasi dan berbagai gangguan perilaku lainnya yang menyertai
  • Pada kasus yang tidak ringan beberapa klinisi memberikan obat oral untuk menekan aktifitas otak yang berlebihan pada penderita. Terdapat beberapa perbedaan pendapat di antara klinisi tentang pemberian obat oral stimulan atau anti psikotik jangka panjang. Banyak kasus terjadi, saat gangguan pencernaan pada penderita diperbaiki kebutuhan minum obat bisa dihindari atau diminimalkan.
  • Puncak gangguan tersebut akan terjadi dan bermasalah pada usia 5-12 tahun saat usia SD, setelah usia tersebut banyak berkurang. Meski pada sebagian kecil kasus yang tidak ringan akan muncul hingga dewasa meski dengan gangguan lebih ringan.

Sikap Orangtua

  • Orangtua harus bijak dan sabar dalam menghadapi kondisi anak tersebut. Pendekatan terhadap anak tidak bisa dengan kekerasan, emosi, perdebatan, sering melarang, atau menyalahkan. Bila harus melarang sesuatu bukan memakai banyak kata “jangan” tetapi memberikan pilihan yang baik dan buruk pada anak.
  • Orangtua harus menyadari bahwa anaknya kondisinya berbeda dengan anak lainnya dan harus disadari anak sangat sensitif emosinya sehingga perlu dilakukan pendekatan khusus.
  • Anak harus diajak berdiskusi dengan kepala dingin tanpa emosi bila melakukan aktifitas apapun. Bila timbul emosi sebaiknya orangtua menghindar sementara dari anak jangan memerahi, berdebat atau mmenyalahkan karena tidak menyelasaiakn masalah. Setelah emosi orangtua menurun, anak didekati lagi dengan lebih sabar.
  • Anak lebih mudah menerima pelajaran dengan dibacakan materi pelajaran dibandingkan dengan membaca sendiri. Sehingga saat tertentu orangtua harus menyiapkan waktu ekstra untuk hal ini.
  • Memilih sekolah yang disiplin yang keras, melakukan kurikulum internasional yang ketat dan tugas PR di rumah yang berlebihansering tidak nyaman dan sering menimbulkan masalah. Pemilihan sekolah yang lebih mementingkan kreatifitas. pendekatan yang familiar, guru yang ramah akan lebih membuat mudah beradaptasi.
  • Sebaiknya orangtua tidak membeda bedakan dengan anak atau saudara lainnya karena kondisi tiap anak berbeda.
  • Uniknya salah satu orangtua terutama dengan fenotip atau wajah yang sama mempunyai karakteristik kesehatan dan psikologis yang sama dengan anak. Sehingga banyak kondisi anak tersebut tidak disadari juga dialami salah stau orangtua waktu kecil.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *