Alergi Gastrointestinal Penyebab Utama Kesulitan Makan Pada Anak

Spread the love

Alergi Gastrointestinal Penyebab Utama Kesulitan Makan Pada Anak

Sandiaz Yudhasmara, Widodo Judarwanto

Gangguan pada gastrointestinal tampaknya memiliki pengaruh terhadap kesulitan makan. Namun, mayoritas penelitian yang menyatakan bahwa gangguan gastrointestinal sebagai penyebab kesulitan makan pada anak adalah gangguan gastrointestinal yang disebabkan oleh reaksi simpang makanan atau hipersensitivitas makanan.

Sebuah penelitian di Inggris menunjukkan bahwa manifestasi klinis gangguan gastrointestinal seperti muntah, konstipasi, pendarahan rektum, penurunan berat badan bahkan manifestasi klinis ekstra-gastrointestinal seperti sakit kepala, letargia, keringat malam, dan nyeri sendi) memiliki hubungan terhadap kesulitan makan pada anak dengan alergi gastrointestinal yang diinduksi oleh protein makanan. Sebuah penelitian lain juga menyatakan sebagian besar gangguan gastrointestinal alergi-makanan non-IgE-mediated ini terjadi pada awal kehidupan anak sehingga dapat menyebabkan kesulitan makan pada anak.13 Hal tersebut akan dibahas secara khusus pada bagian hipersensitivitas makanan.

Selain gangguan gastrointestinal yang dibahas diatas, hipersensitivitas makanan juga mungkin berpengaruh terhadap gangguan gastrointestinal fungsional atau yang biasa disebut functional gastrointestinal disorder. Sejumlah pengamatan menunjukkan bahwa terdapat peran asupan makanan tertentu dalam patogenesis gangguan gastrointestinal fungsional, seperti pada Irritable Bowel Syndrome (IBS) dan dispepsia fungsional.  Prevalensi penderita hipersensitivitas makanan yang tinggi juga tidak menutup kemungkinkan bahwa penderita gangguan gastrointestinal fungsional juga disebabkan oleh reaksi hipersensitivitas makanan.

Gangguan gastrointestinal fungsional yang dimaksud di atas adalah gejala gastrointestinal kronis maupun rekuren yang tidak dapat dijelaskan penyebabnya baik secara struktur maupun biokimia.39 Secara definisi, orang-orang yang mengalami keluhan gangguan gastrointestinal tidak memiliki penyakit, baik organik, sistemik, maupun metabolik yang dapat dijadikan sebagai penjelasan dari gangguan tersebut.  Klasifikasi gangguan gastrointestinal fungsional ini dibagi berdasarkan jenis keluhan atau gejala yang timbul diantaranya seperti kolik infantil, regurgitasi, konstipasi fungsional, diare fungsional dan diskesia

Para ahli menyatakan bahwa sekitar 50% bayi di bawah usia 12 bulan menderita setidaknya satu gangguan gastrointestinal fungsional. Studi epidemiologis mengungkapkan bahwa penyakit kronis konstipasi mempengaruhi dari 0,8% hingga 29,6% anak-anak dan remaja di seluruh dunia dan hingga 90% kasus konstipasi adalah berasal dari gangguan fungsional.43,44 Sedangkan, gangguan gastrointestinal fungsional dengan dominasi nyeri perut mempengaruhi sekitar 16,4% anak-anak dan remaja di seluruh dunia, dan prevalensi gangguan ini meningkat seiring bertambahnya usia

Gangguan gastrointestinal fungsional di awal kehidupan anak dalam jangka pendek dapat menyebabkan kesulitan makan yang dapat menyebabkan penghentian menyusui. Hal ini berisiko tinggi untuk mengalami tantangan perilaku dan perkembangan dan mungkin lebih mungkin untuk memperparah gangguan gastrointestinal di kemudian hari. Gangguan-gangguan tersebut dikhawatirkan memberikan dampak kepada kesehatan anak di masa akan datang bila tidak ditangani dengan tepat.

Anak-anak dengan gangguan gastointestinal ini juga menunjukkan berbagai kelainan pertumbuhan linier yang berhubungan dengan berat badan dan kegemukan tubuh. Meskipun berat badan dan lemak tubuh yang berlebihan sering terjadi pada anak-anak dengan Irritable Bowel Syndrom (IBS), namun para klinisi harus mewaspadai risiko terjadinya malnutrisi pada anak dengan jenis gangguan gastrointestinal fungsional lainnya.  Sebuah studi lain juga telah menunjukkan bahwa anak-anak dengan sembelit kronis lebih cenderung kurus dan berkaitan dengan gangguan penambahan berat badan. Menurut penjelasan penulis, massa tinja yang berlebihan di rektum melemahkan nafsu makan karena ketidaknyamanan perut, kepenuhan, dan mual.49 Hal ini.tentunya juga akan mengakibatkan kesulitan makan pada anak yang dapat berujung pada gangguan tumbuh kembang.

Dari pembahasan di atas, dapat disimpulkan bahwa asupan makanan atau hipersensitivitas makanan dapat berpengaruh terhadap gangguan gastrointestinal. Oleh karena itu, penanganan yang berfokus pada  dapat diusulkan sebagai pendekatan terapeutik sebagai diagnosis dan untuk mengurangi gejala gangguan gastrointestinal tersebut.

Gangguan gastrointestinal terkadang dianggap sebagai hal normal sehingga terkesan tidak ada gejala atau gangguan. Padahal gejala dari gangguan gastrointestinal juga meliputi beberapa keluhan seperti perut kembung, sering cegukan, sering buang angin, sulit buang air besar dan apabila buang air besar disertai “ngeden”,  buang air besar yang tidak teratur, tidak setiap hari, ataupun lebih dari sekali dalam sehari. Gangguan gastrointestinal tersebut juga bisa menyebabkan gangguan tidur malam seperti anak rewel pada malam hari, kolik, tiba-tiba mengigau atau menjerit, tidur terbolak-balik dari satu sisi ke ujung sisi lainnya. Apabila diamati lebih cermat tanda dan gejala tersebut merupakan manifestasi dari gangguan gastrointestinal yang sangat mungkin berhubungan dengan kesulitan makan pada anak.

Hipersensitivitas makanan

Hipersensitivitas makanan adalah istilah payung untuk mencakup semua jenis reaksi simpang makanan makanan seperti reaksi terhadap bahan tambahan makanan, efek obat, reaksi psikologis disalahkan pada faktor lingkungan, gangguan perilaku, dan lain-lain.58 Hipersensitivitas makanan dapat mempengaruhi beberapa organ tubuh manusia. Adapun hipersensitivitas makanan atau yang biasa disebut gastrointestinal food hypersensitivity adalah reaksi hipersensitivitas makanan yang berdampak pada gangguan gastrointestinal.

European Academy of Allergology and Clinical Immunology (EAACI) menetapkan klasifikasi alergi makanan berdasarkan mekanisme patogenesis pada tahun 1995. Berdasarkan klasifikasi ini, reaksi simpang makanan (food adverse-reaction) terdiri dari dua kelompok utama, beracun (toxic) dan tidak beracun reaksi (non toxic). Namun klasifikasi ini mengalami revisi oleh EAACI pada tahun 2001 dengan istilah hipersensitivitas makanan sebagai istilah “payung” untuk mencakup semua jenis reaksi simpang makanan

Hipersensitivitas makanan dapat dibagi menjadi 2 kelompok besar yaitu alergi makanan dan non-alergi makanan. Food allergy atau alergi makanan adalah istilah hipersensitivitas makanan yang melibatkan mekanisme reaksi imun dan terbagi menjadi tiga, yaitu; mekanisme reaksi imun IgE-mediated, campuran (IgE dan/atau non-IgE) atau mekanisme non-IgE-mediated (seluler).

Sedangkan non-alergi makanan adalah reaksi simpang makanan yang tanpa melibatkan mekanisme reaksi imun atau bisaa disebut sebagai intoleransi makanan yang pada umumnya disebabkan oleh faktor intrinsik seperti defisiensi enzim, psikologis, dan faktor eksternal seperti infeksi, bahan makanan tambahan, farmakologis, dan sebagainya.

Diperkirakan bahwa sekitar 25% dari populasi Amerika Serikat percaya bahwa mereka telah mengalami alergi makanan, meskipun kejadian sebenarnya menunjukkan tingkat yang mendekati 2% -8% pada bayi muda dan sekitar 2% pada populasi orang dewasa. Marklund dan kawan-kawan. menilai kualitas hidup terkait kesehatan di antara 1488 remaja dengan penekanan pada hipersensitivitas makanan. Mereka menemukan bahwa 64% responden melaporkan proses tipe alergi terhadap zat tertentu dan 51% melaporkan penyakit alergi seperti asma, eksim, dan rinokonjungtivitis. Sebanyak 19% responden melaporkan mengalami hipersensitivitas makanan. Kuesioner penulis menunjukkan bahwa alergi makanan pada kelompok remaja mungkin memiliki konsekuensi yang lebih luas daripada hanya komponen organik; mereka juga dapat mempengaruhi kesehatan psikososial. Faktor-faktor yang telah dikaitkan dengan peningkatan risiko untuk mengembangkan penyakit gastrointestinal terkait alergi makanan adalah usia 3 tahun, reaksi akut dekat dengan makan makanan tertentu, dermatitis atopik, asma bronkial, dan riwayat keluarga atopi. Atopi adalah kecenderungan untuk mengembangkan reaksi hipersensitivitas tipe langsung (IgE): eksim atopik, alergi makanan, asma, rinitis alergi. Ada kecenderungan genetik untuk mensintesis antibodi IgE (secara tidak tepat) terhadap antigen lingkungan.

BACA  GANGGUAN FUNGSI SALURAN CERNA, PENYEBAB UTAMA SULIT MAKAN

Manifestasi Klinis

Hipersensitivitas makanan dapat mempengaruhi banyak organ, sehingga menyebabkan berbagai gejala yang membingungkan dengan mekanisme imunopatologis yang berbeda. Alergi makanan yang dimediasi IgE memiliki manifestasi klasik seputar syok anafilaksis, angioedema, urtikaria, asma, muntah, diare,dermatitis atopik, sindrom oral, rinitis dan konjungtivitis.

Selain gejala gastrointestinal murni seperti mual, muntah, perut kram atau kolik, dan diare, reaksi alergi juga dapat timbul di berbagai organ target. Reaksi alergi pada kulit dapat berupa urtikaria, kemerahan, eritematosa, ruam pruritus, dermatitis atopik, sedangkan pada pernapasan seperti hidung tersumbat, rinore, bersin, laring, edema, mengi, asma dan reaksi kardiovaskular seperti hipotensi, syok, pusing, dan lain-lain.

 

Tabel  Dampak Hipersensitivitas Makanan Terhadap Sistem Organ yang Terdampak

  IgE-Mediated Mixed IgE/ non-IgE-Mediated Non-IgE-Mediated
Gastro-

intestinal

Reaksi cepat hipersensitivitas gastrointestinal Esofagitis eosinofilik alergika Entrokolitis protein makanan
Sindroma alergi oral Gastritis eosinofilik alergika Proktitis protein makanan
  Gastroenteritis eosinofilik alergika Entropati protein makanan
      Penyakit celiac
       
Kulit Urtikaria akut Dermatitis atopik Dermatitis herpetiformis
Angiodema    
Urtikaria kontak akut    
  Urtikaria kronis    
Pernapasan Rinitis alergika Asma Hemosiderosis paru
Bronkospasme akut    

 

Sumber: American Gastroenterology Association Medical Position Statement: evaluation of food allergies. Gastroenterology. 2001;120: 1023–1025.

 

 

Hipersensitivitas makanan menurut klasifikasi European Academy of Allergology and Clinical Immunology (EAACI) secara garis besar memiliki reaksi atau karakteristik manifestasi klinis yang berbeda-beda. Reaksi alergi makanan yang dimediasi oleh antibodi IgE (IgE-mediated) memiliki onset yang cepat segera setelah konsumsi makanan, sedangkan onset pada alergi makanan dimediasi-non-IgE (cell-mediated) lebih lambat setelah konsumsi makanan. Dalam reaksi campuran (mixed IgE-and-non-IgE mediated), manifestasi klinisnya seringkali muncul secara  tumpang tindih dengan yang terlihat pada kondisi lain.67

Reaksi alergi makanan yang diperantarai IgE bisaanya menyebabkan mual dan muntah, yang dapat terjadi segera setelah menelan makanan penyebab, seringkali saat makanan masih dikonsumsi, dan/atau diare, yang dapat terjadi segera atau mungkin tertunda beberapa jam.68 Sebaliknya, reaksi alergi makanan yang dimediasi noneIgE lebih lambat. Mereka terjadi dengan paparan berulang terhadap makanan penyebab dan bisaanya mengakibatkan peradangan kronis yang mempengaruhi berbagai bagian saluran gastrointestinal dengan gejala yang terkait.

Gangguan gastrointestinal alergi-makanan yang dimediasi oleh NoneIgE mencakup sejumlah penyakit, yaitu eosinophilic gastrointestinal disorders (EGIDs), food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES), food protein-induced proctocolitis (FPIP), dan noneIgE-mediated food protein-induced allergic dysmotility disorders yang tidak terdefinisi dengan baik. dalam gejala GI.69

EGID dapat terjadi pada usia berapa pun dan mencakup beberapa himpunan bagian yang: dinamai menurut lokasi yang mereka pengaruhi di saluran GI. Kondisi ini meliputi esofagitis eosinofilik (EoE), gastritis eosinofilik, enteritis, gastroenteritis eosinofilik, dan kolitis eosinofilik.  Gejala esofagitis eosinofilik (EoE) pada anak-anak sebagian besar tidak spesifik dan termasuk: sakit perut, muntah, dan refluks gastroesofageal tetapi juga bisa termasuk disfagia dan impaksi makanan esofagus. Sedangkan EGID lainnya dapat menyebabkan sakit perut, muntah, dan/atau diare, disertai darah dalam tinja juga terjadi pada beberapa pasien dengan colitis.70

Food protein-induced enterocolitis syndrome (FPIES), Food protein-Induced Proctocolitis (FPIP), dan noneIgE-mediated Food Protein-Induced Allergic Dysmotility Disorders mempengaruhi anak-anak lebih sering selama masa bayi. Meskipun FPIES dapat menyebabkan gejala gastrointestinal non-spesifik seperti nyeri perut, muntah, dan atau diare, dan gagal tumbuh pada fase kronis, anak-anak dengan FPIES bisa mengalami shock jika kembali terpapar makanan penyebab setelah periode penghindaran.71 FPIP adalah yang paling ringan dari alergi-makanan gastrointestinal yang dimediasi non-IgE karena bayi dengan FPIP bisaanya sehat selain mengalami kondisi adanya darah di tinjanya pada sebagian besar kasus.72

.           Non-IgE-mediated Food Protein-Induced Allergic Dysmotility Disorders atau gangguan dismotilitas alergi yan diinduksi protein makanan dapat menyebabkan refluks gastroesofageal, muntah, diare, dan konstipasi, telah dilaporkan khususnya dengan alergi susu sapi73-76 tetapi juga dapat terjadi dengan alergen makanan lain, seperti kedelai, telur, dan gandum.77,78

 

Tabel  Klasifikasi Gangguan Gastrointestinal Alergi Makanan Berdasarkan Gejala dan Manifestasi atau Dampak Kesulitan Makannya

 

No. Gangguan Gastorintestinal

Alergi-Makanan

diperentarai-Non-IgE

Gejala Manifestasi/Dampak Kesulitan Makan
1. EoE (eosinophilic esophagitis) Muntah, nyeri perut, disfagia, cepat kenyang, pertumbuhan goyah Fear of eating, selective eating, limited eating and food refusal
2. EGID (eosinophilic gastrointestinal disorder)selain EoE Muntah, nyeri perut, diare Fear of eating, selective eating, limited eating and food refusal
3. FPIES (food protein-induced enterocolitis syndrome) Muntah akut, syok Fear of eating, selective eating,
4. FPIP (food protein-induced proctocolitis) Feses dengan darah Parental fear of feeding
5. Food Protein-Induced Allergic Dismolity Disorder Muntah, diare, konstipasi, pertumbuhan goyah Fear of feeding, selective intake, limited appetite

 

Sumber: Nowak-Wegrzyn A, Chehade M, Groetch ME, et al. International consensus guidelines for the diagnosis and management of food protein-induce enterocolitis syndrome: executive summary-Workgroup Report of the Adverse Reactions to Foods Committee, American Academy of Allergy, Asthma & Immunology. J Allergy Clin Immunol. 2017;139:1111e1126

 

Diagnosis Hipersensitivitas Makanan

Diagnosis hipersensitivitas makanan dapat diperoleh dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium. Penegakan diagnosis hipersensitivitas makanan standar baku emas atau gold standard­ dapat dipastikan dengan Double Blind Placebo Kontrolled Food Challenge (DBPCFC).79 Namun, cara DBPCFC tersebut sangat rumit dan membutuhkan waktu, tidak praktis dan biaya yang tidak sedikit. Oleh karena itu, diagnosis juga bisa dilakukan lebih praktis dan sederhana dengan uji tantangan makan terbuka atau open food challenge.

Anamnesis

Diagnosis hipersensitivitas makanan yang menyebabkan gangguan gastrointestinal harus ditegakkan melalui tahapan observasi gejala gastrointestinal setelah asupan makanan yang dicurigai atau adanya antibodi IgE spesifik alergen. Kebanyakan pasien bisaanya akan sulit menggambarkan hubungan antara asupan makanan tertentu dan munculnya perkembangan gejala karena gejala gastrointestinal yang muncul seringkali dianggap normal. Gejala gangguan gastrointestinal tersebut tidak hanya meliputi gangguan pencernaan biasa seperti konstipasi, diare, mual, muntah, nyeri perut, tetapi juga dapat ditandai dengan beberapa karakteristik lainnya seperti rewel pada malam hari yang disertai posisi tidur tengkurap, feses berbau, feses berwarna hitam, dan lainnya. Oleh karena itu, anamnesis riwayat pasien secara rinci harus dilakukan untuk mengidentifikasi apakah keluhan mungkin terkait dengan hipersensitivitas makanan atau tidak.

Tes Modifikasi Eliminasi dan Provokasi Makanan Terbuka

Beberapa pusat layanan alergi anak melakukan modifikasi dengan cara yang lebih sederhana, murah dan cukup efektif. Modifikasi DBPCFC tersebut dengan melakukan “Tes Modifikasi Eliminasi dan Provokasi Makanan Terbuka”. Intervensi makanan tersebut dilakukan dengan cara menghindari beberapa kelompok makanan yang dicurigai sebagai penyebab hipersensitivitas makanan selama 3 minggu. Penderita mengganti konsumsi makanan dengan jenis makanan yang aman yang tidak kalah bagus gizinya, seperti misalnya daging ayam diganti daging sapi, telor diganti tofu, tempe atau tahu. Semua sayur bisa dikonsumsi kecuali tomat dan jagung.

Secara umum terdapat beberapa makanan yang diperbolehkan dan dihindari. Ada beberapa regimen diet yang bisa digunakan­.

  1. Elimination Diet : beberapa makanan harus dihindari yaitu Buah, Susu, Telur, Ikan dan Kacang, di Surabaya terkenal dengan singkatan BSTIK. Merupakan makanan-makanan yang banyak ditemukan sebagai penyebab gejala alergi, jadi makanan-makanan dengan indeks alergenisitas yang tinggi. Indeks ini mungkin lain untuk wilayah yang lain, sebagai contoh dengan Double Blind Placebo Controlled Food Challenge (DBPCFC) mendapatkan telur, kacang tanah, susu sapi, ikan, kedelai, gandum, ayam, babi, sapi dan kentang, sedangkan Bischop mendapatkan susu, telur, kedelai dan kacang.
  2. Minimal Diet 1 (Modified Rowe’s diet 1) : terdiri dari beberapa makanan dengan indeks alergenisitas yang rendah. Berbeda dengan elimination diet, regimen ini terdiri dari beberapa bahan makanan yang diperbolehkan yaitu : air, beras, daging sapi, kelapa, kedelai, bayam, wortel, bawang, gula, garam dan susu formula kedelai. Bahan makanan lain tidak diperbolehkan.
  3. Minimal Diet 2 (Modified Rowe’s Diet 2) : Terdiri dari makanan-makanan dengan indeks alergenisitas rendah yang lain yang diperbolehkan, misalnya : air, kentang, daging kambing, kacang merah, buncis, kobis, bawang, formula hidrolisat kasein, bahan makanan yang lain tidak diperkenankan.
  4. Egg and Fish Free Diet : diet ini menyingkirkan telur termasuk makanan-makanan yang dibuat dari telur dan semua ikan. Biasanya diberikan pada penderita-penderita dengan keluhan dengan keluhan utama urtikaria, angionerotik udem dan eksema.
  5. His Own’s Diet : menyingkirkan makanan-makanan yang dikemukakan sendiri oleh penderitanya sebagai poenyebab gejala alergi. Apabila setelah dilakukan eliminasi beberapa penyebab alergi makanan selama 3 minggu didapatkan perbaikan pada gejala gangguan gastrointestinal seperti konstipasi, diare, mual, muntah, nyeri perut, malam rewel disertai posisi tidur tengkurap atau feses berbau, berwarna hitam, maka dapat dipastikan penyebabnya adalah penyebab berbagai gangguan yang ada adalah berkaitan dengan hipersensitivitas makanan.
  6. “Tes modifikasi eliminasi dan provokasi makanan terbuka” : Intervensi oral food challenge dengan menggunakan “tes modifikasi eliminasi dan provokasi makanan terbuka”. Intervensi tersebut dilakukan dengan cara subjek penelitian dianjurkan untuk mengonsumsi makanan yang termasuk kelompok rendah alergi atau hipoalergenik dan relatif aman dalam reaksi simpang makanan. Selain itu subjek penelitian dianjurkan menghindari beberapa kelompok makanan resko tinggi alergi yang diduga sebagai penyebab hipersensitivitas makanan. Jenis makanan yang dianjurkan untuk dikonsumsi dan dihindari mengikuti daftar makanan yang telah disusun tersendiri

 Pemeriksaan Penunjang

Pemeriksaan laboratorium pada umumnya dilakukan hanya untuk mendapatkan hasil yang lebih pasti. Pemeriksaan tersebut meliputi: skin prick-puncture test atau tes tusuk kulit, kadar IgE serum total dan spesifik, tes tempel atopi, tes histamin, triptase, dan protein kationik eosinophil, leukotriene dan sitokin. Namun sebagian besar dari tes tersebut memerlukan satu hingga beberapa kali kunjungan ke dokter, rumit dan membutuhkan biaya yang tidak murah.

Penatalaksanaan

Penangan utama hipersensitivitas makanan akan terus berlanjut untuk menghindari makanan yang memiliki reaksi-simpang setelah melakukan diet eliminasi. Diet eliminasi tersebut hanya sebagai alat diagnosis. Setelah diet eliminasi dilakukan selama 3 minggu, kemudian dilakukan provokasi dengan 1 makanan tambahan setiap minggu untuk mengidentifikasi makanan penyebab. Apabila makanan penyebab gejala gangguan gastrointestinal telah ditemukan, maka makanan tersebut harus dihindari sebaik mungkin dan diganti dengan makanan-makanan yang tergolong hipoalergenik.

Referensi

  • Judarwanto W. Mengatasi Kesulitan Makan Pada Anak. Jakarta: Puspa Swara; 2004
  • Yudhasmara, Audi. 2018. Karakteristik dan Faktor Risiko Kesulitan Makan pada Anak Usia 6-60 Bulan. Tugas Akhir, Program Studi Pendidikan Dokter, Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya
  • Chehade M, Meyer R, Beauregard A. Feeding difficulties in children with non-IgE-mediated food allergic gastrointestinal disorders. Ann Allergy Asthma Immunol. 2019;122(6):603–9.
  • Meyer R, Rommel N, Van Oudenhove L, Fleming C, Dziubak R, Shah N. Feeding difficulties in children with food protein-induced gastrointestinal allergies: Feeding difficulties in food allergies. J Gastroenterol Hepatol. 2014;29(10):1764–9
  • Sicherer SH: Diagnosis and management of childhood food allergy. Curr Probl Pediatr 2001; 31 : 35-57.
  • Judarwanto, W. Penanganan terkini sulit Makan Pada anak. diakses pada 22 Des 2020. Diambil dari : https://pickyeatersclinic.com/2020/09/27/penanganan-terkini-sulit-makan-pada-anak/
  • Kerzner B, Milano K, MacLean WC Jr, Berall G, Stuart S, Chatoor I. A practical approach to classifying and managing feeding difficulties. Pediatrics 2015;135:344-53.
  • Wright CM, Parkinson KN, Shipton D, Drewett RF. How do toddler eating problems relate to their eating behavior, food preference and growth? Pediatrics 2007; 120: e1069–75
  • Yang, H. R. (2017). How to approach feeding difficulties in young children. Korean Journal of Pediatrics, 60(12), 379
  • Lindberg L, Bahlin G, Hagekull S. Early feeding problems in a normal population. Int J Eat Disord 1991;10:395-405.
  • Reau NR, Senturia YD, Lebailly SA, Christoff el KK, the Pediatric Practice Research Group. Infant and toddler feeding patterns and problems: normative data and a new direction. J Dev Behav Pediatr. 1996;17:149-53.
  • Beautrais A, Fergusson D, Shannon F. Family life events and behavioral problems in preschool-aged children. Pediatrics. 1982;70:774–9.
  • Amirani   Kesulitan  makan  pada  anak  prasekolah  usia 4-6  tahun:prevalens, karakteristik,  antropometris  dan keluarga.  Tesis.  Program  Studi  Ilmu  Kesehatan  Anak FKUI, 1998, Jakarta
  • Carruth BR, Skinner J, Houck K, Moran J 3rd, Coletta F, Ott D.. The phenomenon of “picky eater”: a behavioral marker in eating patterns of toddlers. J Am Coll Nutr. 1998 Apr;17(2):180-6.
  • Bernard-Bonnin AC. Feeding problems of infants and toddlers. Can Fam Physician 2006;52:1247-51.
  • Chatoor I. Diagnosis and treatment of feeding disorders in infants, toddlers, and young children. Washington: Zero to Th ree; 2009.
  • Kerzner B. Clinical investigation of feeding difficulties in young children: a practical approach. Clinic Pediatric. 2009;48:960-5.
  • Carolina Hvelplund, Bo Mølholm Hansen, Susanne Vinkel Koch, Mikael Anderssonand Anne Mette Skovgaard. Perinatal Risk Factors for Feeding and Eating Disorders in Children Aged 0 to 3 Years. Pediatrics February 2016, 137 (2) .
  • Bąbik K M, Horvath A, Dziechciarz P, Ostaszewski P. Feeding difficulties: etiology and growth parameters. Archives of Medical Science. 2020. doi:10.5114/aoms.2020.100187.
  • Reau NR, Senturia YD, Lebailly SA, Christoff el KK, the Pediatric Practice Research Group. Infant and toddler feeding patterns and problems: normative data and a new direction. J Dev Behav Pediatr. 1996;17:149-53.
  • Children’s Wisconsin. Oral-motor-and-oral-sensory-problems. diakses pada 29 September 2021. Diambil dari: https://childrenswi.org/medical-care/gastroenterology-liver-and-nutrition-program/conditions/oral-motor-and-oral-sensory-problems
  • Marshall J, Hill RJ, Ware RS, Ziviani J, Dodrill P. Clinical Characteristics of 2 Groups of Children With Feeding Difficulties. J Pediatr Gastroenterol Nutr. 2016 Jan;62(1):161-8
  • Vincent Zhu, Jacqueline Dalby-Payne. Feeding difficulties in children with autism spectrum disorder: Aetiology, health impacts and psychotherapeutic interventions. J Paediatr Child Health . 2019 Nov;55(11):1304-1308.
  • Kerwin ME, Eicher PS, Gelsinger J. Parental report of eating problems and gastrointestinal symptoms in children with pervasive developmental disorders. Child. Health Care 2005; 34: 217-34.
  • Norsuhaila Sha’ari, Zahara Abdul Manaf, Mahadir Ahmad, Fairuz Nazri Abd Rahman. Nutritional status and feeding problems in pediatric attention deficit-hyperactivity disorder. Pediatr Int. 2017 Apr;59(4):408-415.
  • Bisschops R, Karamanolis G, Arts J et al. Relationship between symptoms and ingestion of a meal in functional dyspepsia. Gut 2008;57:1495-503..
  • Simren M, Mansson A, Langkilde AM et al. Food-related gastrointestinal symptoms in the irritable bowel syndrome. Digestion 2001;63:108-15
  • Boettcher E, Crowe SE. Dietary proteins and functional gastrointestinal disorders. Am J Gastroenterol. 2013;108(5):728–36
  • Rasquin A, Di Lorenzo C, Forbes D, Guiraldes E, Hyams JS, Staiano A, et al. Childhood functional gastrointestinal disorders: child/adolescent. Gastroenterology.2006 Apr 1;130(5):1527–37.
  • Chey WD. The role of food in the functional gastrointestinal disorders: introduction to a manuscript series. Am J Gastroenterol. 2013;108(5):694–7
  • Iacono G, Merolla R, D’Amico D, Bonci E, Cavataio F, Di Prima L, et al. Gastrointestinal symptoms in infancy: a population-based prospective study. Dig Liver Dis. 2005 Jun;37(6):432–8.

 

loading...

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *